Oleh : Yudi Hendra M, S.IP
Menyimak perjalanan dan sepak terjang media massa (pers,red) lokal khususnya cetak yang rutin terbit dan beredar di Jambi, sejak era koran Warta Massa tahun 1982, yang berlanjut dengan Sriwijaya Post (meski bukan lokal, namun punya kolom khusus Jambi), hingga akhirnya dipupus oleh hegemoni grup Jawa Pos yang sukses mengakuisisi dan menyulap salah satu media lokal menjadi salah satu andalan mereka dari dua anak perusahaan besar dalam meraup profit di ranah “Melayu demokrat” ini, memang sangat impresif. Bahkan hebatnya lagi, dengan kolaborasi dua anak perusahaan mereka yang diset menjadi lawan bisnis ini, Jawa Pos sukses meramaikan industri pers di Jambi dengan mengudaranya Jambi TV sebagai alternatif konsumsi informasi bagi masyarakat.
Disadari ataupun tidak, kata pers dewasa ini telah menjelma menjadi sebuah “mantera” keramat bagi siapapun yang menyebutnya, tidak terbatas hanya pada golongan menengah keatas. Jika dalam dua dasawarsa lalu masyarakat sempat apatis dan skeptis dengan porsi pemberitaan lokal melalui media-media yang ada, kini telah “melek” dengan derasnya arus informasi, seiring pesatnya dunia IT dan opsi pelayanan yang diberikan oleh media lokal melalui situs jejaring komersil mereka yang dapat diakses kapan dan dimana saja.
Jika dahulu warga Jambi mendengar kabar atau berita tentang peristiwa kriminal, perceraian, kasus-kasus korupsi via mulut ke mulut yang dibumbui oleh penyedap hiperbolik, kini berita-berita tersebut tersaji cepat, akurat, dan faktual. Ini sejalan dengan misi dan hakikat keberadaan pers sebagai lembaga kemasyarakatan yang hidup ditengah masyarakat dan pemerintah, meski bukan merupakan bagian dari keduanya.
Kini masyarakat Jambi telah terbiasa membaca profil dan seluk-beluk pribadi salah satu tokoh figur masyarakat yang kerap wara-wiri di koran. Uniknya, kehidupan pribadi dan pandangan masyarakat tidak lantas menjadi homogen dengan uraian berita advertorial (berita pesanan narasumber,red) tersebut. Mereka tetap memiliki opini tersendiri mengenai tulisan tersebut. Ini mungkin adalah cerminan tingginya kedewasan wawasan berfikir masyarakat yang tumbuh dari tradisi membaca jejak historis seseorang.
Perubahan Pola Pikir
Seiring dengan tuntutan untuk bertahan hidup dengan ketatnya kompetisi antar media, telah merubah idealisme fanatik yang sempat dianut oleh wartawan dan komponen manajerial perusahaan media. Mereka kini cenderung lebih realistis dalam menghadapi kompetisi. Untuk itu beberapa langkah telah dilakukan oleh hampir seluruh media massa yang ada di Jambi. Dengan memaksimalkan potensi yang ada disektor usaha mereka masing-masing.
Dengan mulai dikenalnya istilah industrialisasi pers pada awal abad ke-20 di Indonesia juga berimbas kesemua lini perusahaan media. Semua unit kerja diharuskan bekerja seefisien mungkin. Bahkan bukan sebuah barang baru lagi di Jambi, bilamana seorang Pimpinan Redaksi sering turun ke lapangan untuk mencari berita guna meng-cover anak buahnya yang ditugaskan meliput berita atau peristiwa tertentu yang mempunyai nilai berita tinggi.
Peluang Bagus
Dari hasil pengamatan penulis dalam kurun waktu 3 tahun terakhir, berbagai upaya telah dilakukan media dengan memanfaatkan celah-celah tertentu untuk mendapatkan keuntungan. Salah satu sumber pemasukan terbesar bagi media saat ini adalah iklan. Betapa tidak, dengan harga yang masih relatif mahal untuk kota kecil seperti Jambi, nyatanya banyak kalangan mulai dari birokrat, pengusaha, akademisi, hingga teknisi yang berebut memasang iklan pariwara atau ucapan selamat atas diresmikannya sebuah institusi pemerintah, yakni Kantor Samsat Jelutung. Padahal berdasarkan data yang penulis dapat pada Januari 2007, untuk ukuran 2 kolom x 50 mm yang notabene size terkecil yang ditawarkan media bersangkutan, ditarik harga Rp 250.000,- untuk satu kali terbit. Bayangkan saja, saat itu puluhan institusi, lembaga baik swasta dan pemerintah seolah-olah berlomba-lomba mengucapkan selamat atas seremonial peresmian institusi tersebut. Bahkan ada yang nekad mengambil iklan 7 kolom x 27 mm seharga Rp. 4.000.000,- sekali terbit.
Selain itu, jika kita cermati dengan seksama hampir semua koran harian terbitan lokal telah mematronkan beberapa halaman dari keseluruhan bidang pemberitaan mereka menjadi salah satu sumber pemasukan yang cukup menggiurkan, dengan tajuk society atau apapunlah namanya. Orang awam sering menyebutnya berita bergambar atau advertorial bagi kalangan pers.
Ya, beragam nama mereka patenkan untuk memenuhi profit oriented yang kita bicarakan diatas dengan alibi sebagai wahana sosialisasi mendekatkan diri kepada lingkungan juga sering dibuat menjadi kolom “narsis” atau gagah-gagahan demi mendapatkan citra positif untuk dirinya. Dampak positif yang dirasakan masyarakat adalah mereka menjadi tahu dan aware atas apa yang terjadi saat ini. Jika yang memasang adalah birokrat, otomatis masyarakat tahu apa program kemasyarakatan dan pembangunan yang sedang dikerjakan pemerintah saat ini.
Dan ajang Pilwako yang baru lalu telah menjadi ladang uang bagi industri media. Betapa tidak, sudah menjadi tradisi bagi media cetak dan elektronik menjelang ajang pesta demokrasi baik itu skala lokal, maupun nasional untuk “menagih” kontrak kepada individu ataupun parpol dengan besaran nominal yang membuat kita menelan air ludah. Bahkan penulis pernah mendengar selentingan kabar bahwa salah seorang mantan Cabup Muarojambi pada Pilkada terakhir terjerat utang dengan beberapa media dalam jumlah ratusan juta, sebagai harga jual dari kekalahannya dalam pertarungan di Pilkada.
Untuk yang satu ini cukup menarik untuk dibicarakan. Sebab, ada kompensasi menarik bagi media yang mendukung salah satu calon eksekutif dengan memberlakukan potongan khusus untuk iklan advertorialnya selama kampanye dengan janji berlangganan untuk setiap dinas, instansi, serta SKPD yang bakal menjadi bawahannya seusai dilantik DPR. Dengan catatan, ia menang dalam pemilihan.
Bukankah ini fenomena yang positif bagi bisnis media?
Pemanfaat Semua Bidang Usaha
Menurut Drs Totok Djuroto M.Si dalam bukunya yang berjudul Manajemen Penerbitan Pers, didalam tubuh perusahaan media cetak saat ini ada tiga poros utama, yakni redaksional, usaha, dan percetakan. Dimana bidang usaha yang menjadi sorotan utama patut dioptimalisasikan guna pencapaian keuntungan sesuai misi perusahaan, sebab disana bercokol 6 subbidang yang sangat berpengaruh pada kemajuan perusahaan. Yaitu, Bagian iklan, sirkulasi, keuangan, customer care (pelayanan), personalia (umum), serta teknik. Keenam subbidang ini dikepalai oleh seorang Pimpinan Perusahaan. Yang tugasnya jelas berbeda dengan pimpinan redaksi yang cenderung bertanggung-jawab atas isi dan patron gaya pemberitaan media mereka. Namun pada prakteknya ketiga poros utama unit usaha tersebut harus saling berkomunikasi untuk kemajuan perusahaan.Dalam struktur hirarkhi perusahaan media Jambi, memang ada fakta tingkatan manajerial. Namun pada prakteknya wartawanlah yang menjadi penentu sukses tidaknya sebuah media.
Contoh kecil dari industrialisasi pers yang berorientasi profit adalah sinergi dan kejelian antara semua lini usaha di media dalam menatap prospek yang ada. Menurut salah seorang pimpinan media mingguan lokal di Jambi, Daniel S, dengan arahan seorang Pimpinan Umum (top manager/pemilik modal) dapat mengarahkan semua manajer dibawahnya untuk saling bahu-membahu. Dalam upaya mengimbangi pemasukan sehingga terjadi keseimbangan antara income dan pengeluaran, efisiensi mutlak diperlukan. Untuk medianya, Daniel melakukan penghematan jumlah karyawan dengan memaksimalkan potensi lobi wartawan yang telah dikenalnya selama bertahun-tahun. Bahkan ia berani membebankan jumlah pelanggan kepada wartawan. Menurutnya, ini dilakukan sebagai cara pintas dengan memanfaatkan kedekatan psikologis wartawan dengan narasumber potensial berlangganan, ketimbang mengirimkan seorang marketing untuk melobi ulang.
Penulis mengambil kesimpulan, semua unsur yang menjadi sumber indsutrialisasi media sudah terpenuhi dengan banyaknya fakta-fakta dilapangan, dengan demikian semoga dunia pers dapat menarik minat masyarakat untuk mendalami serta menjadi sokoguru baru bagi lulusan jurnalistik sebagai taget baru lapangan kerja.
Penulis adalah Mahasiswa Pasca Sarjana Filsafat Islam dan staff pengajar pada Jurusan Jurnalistik Fak. Ushuluddin IAIN STS Jambi
















