Feeds:
Tulisan
Komentar

Oleh : Yudi Hendra M, S.IP

Menyimak perjalanan dan sepak terjang media massa (pers,red) lokal khususnya cetak yang rutin terbit dan beredar di Jambi, sejak era koran Warta Massa tahun 1982, yang berlanjut dengan Sriwijaya Post (meski bukan lokal, namun punya kolom khusus Jambi), hingga akhirnya dipupus oleh hegemoni grup Jawa Pos yang sukses mengakuisisi dan menyulap salah satu media lokal menjadi salah satu andalan mereka dari dua anak perusahaan besar dalam meraup profit di ranah “Melayu demokrat” ini, memang sangat impresif. Bahkan hebatnya lagi, dengan kolaborasi dua anak perusahaan mereka yang diset menjadi lawan bisnis ini, Jawa Pos sukses meramaikan industri pers di Jambi dengan mengudaranya Jambi TV sebagai alternatif konsumsi informasi bagi masyarakat.

Disadari ataupun tidak, kata pers dewasa ini telah menjelma menjadi sebuah “mantera” keramat bagi siapapun yang menyebutnya, tidak terbatas hanya pada golongan menengah keatas. Jika dalam dua dasawarsa lalu masyarakat sempat apatis dan skeptis dengan porsi pemberitaan lokal melalui media-media yang ada, kini telah “melek” dengan derasnya arus informasi, seiring pesatnya dunia IT dan opsi pelayanan yang diberikan oleh media lokal melalui situs jejaring komersil mereka yang dapat diakses kapan dan dimana saja.

Jika dahulu warga Jambi mendengar kabar atau berita tentang peristiwa kriminal, perceraian, kasus-kasus korupsi via mulut ke mulut yang dibumbui oleh penyedap hiperbolik, kini berita-berita tersebut tersaji cepat, akurat, dan faktual. Ini sejalan dengan misi dan hakikat keberadaan pers sebagai lembaga kemasyarakatan yang hidup ditengah masyarakat dan pemerintah, meski bukan merupakan bagian dari keduanya.
Kini masyarakat Jambi telah terbiasa membaca profil dan seluk-beluk pribadi salah satu tokoh figur masyarakat yang kerap wara-wiri di koran. Uniknya, kehidupan pribadi dan pandangan masyarakat tidak lantas menjadi homogen dengan uraian berita advertorial (berita pesanan narasumber,red) tersebut. Mereka tetap memiliki opini tersendiri mengenai tulisan tersebut. Ini mungkin adalah cerminan tingginya kedewasan wawasan berfikir masyarakat yang tumbuh dari tradisi membaca jejak historis seseorang.

Perubahan Pola Pikir

Seiring dengan tuntutan untuk bertahan hidup dengan ketatnya kompetisi antar media, telah merubah idealisme fanatik yang sempat dianut oleh wartawan dan komponen manajerial perusahaan media. Mereka kini cenderung lebih realistis dalam menghadapi kompetisi. Untuk itu beberapa langkah telah dilakukan oleh hampir seluruh media massa yang ada di Jambi. Dengan memaksimalkan potensi yang ada disektor usaha mereka masing-masing.
Dengan mulai dikenalnya istilah industrialisasi pers pada awal abad ke-20 di Indonesia juga berimbas kesemua lini perusahaan media. Semua unit kerja diharuskan bekerja seefisien mungkin. Bahkan bukan sebuah barang baru lagi di Jambi, bilamana seorang Pimpinan Redaksi sering turun ke lapangan untuk mencari berita guna meng-cover anak buahnya yang ditugaskan meliput berita atau peristiwa tertentu yang mempunyai nilai berita tinggi.

Peluang Bagus

Dari hasil pengamatan penulis dalam kurun waktu 3 tahun terakhir, berbagai upaya telah dilakukan media dengan memanfaatkan celah-celah tertentu untuk mendapatkan keuntungan. Salah satu sumber pemasukan terbesar bagi media saat ini adalah iklan. Betapa tidak, dengan harga yang masih relatif mahal untuk kota kecil seperti Jambi, nyatanya banyak kalangan mulai dari birokrat, pengusaha, akademisi, hingga teknisi yang berebut memasang iklan pariwara atau ucapan selamat atas diresmikannya sebuah institusi pemerintah, yakni Kantor Samsat Jelutung. Padahal berdasarkan data yang penulis dapat pada Januari 2007, untuk ukuran 2 kolom x 50 mm yang notabene size terkecil yang ditawarkan media bersangkutan, ditarik harga Rp 250.000,- untuk satu kali terbit. Bayangkan saja, saat itu puluhan institusi, lembaga baik swasta dan pemerintah seolah-olah berlomba-lomba mengucapkan selamat atas seremonial peresmian institusi tersebut. Bahkan ada yang nekad mengambil iklan 7 kolom x 27 mm seharga Rp. 4.000.000,- sekali terbit.

Selain itu, jika kita cermati dengan seksama hampir semua koran harian terbitan lokal telah mematronkan beberapa halaman dari keseluruhan bidang pemberitaan mereka menjadi salah satu sumber pemasukan yang cukup menggiurkan, dengan tajuk society atau apapunlah namanya. Orang awam sering menyebutnya berita bergambar atau advertorial bagi kalangan pers.
Ya, beragam nama mereka patenkan untuk memenuhi profit oriented yang kita bicarakan diatas dengan alibi sebagai wahana sosialisasi mendekatkan diri kepada lingkungan juga sering dibuat menjadi kolom “narsis” atau gagah-gagahan demi mendapatkan citra positif untuk dirinya. Dampak positif yang dirasakan masyarakat adalah mereka menjadi tahu dan aware atas apa yang terjadi saat ini. Jika yang memasang adalah birokrat, otomatis masyarakat tahu apa program kemasyarakatan dan pembangunan yang sedang dikerjakan pemerintah saat ini.
Dan ajang Pilwako yang baru lalu telah menjadi ladang uang bagi industri media. Betapa tidak, sudah menjadi tradisi bagi media cetak dan elektronik menjelang ajang pesta demokrasi baik itu skala lokal, maupun nasional untuk “menagih” kontrak kepada individu ataupun parpol dengan besaran nominal yang membuat kita menelan air ludah. Bahkan penulis pernah mendengar selentingan kabar bahwa salah seorang mantan Cabup Muarojambi pada Pilkada terakhir terjerat utang dengan beberapa media dalam jumlah ratusan juta, sebagai harga jual dari kekalahannya dalam pertarungan di Pilkada.
Untuk yang satu ini cukup menarik untuk dibicarakan. Sebab, ada kompensasi menarik bagi media yang mendukung salah satu calon eksekutif dengan memberlakukan potongan khusus untuk iklan advertorialnya selama kampanye dengan janji berlangganan untuk setiap dinas, instansi, serta SKPD yang bakal menjadi bawahannya seusai dilantik DPR. Dengan catatan, ia menang dalam pemilihan.
Bukankah ini fenomena yang positif bagi bisnis media?

Pemanfaat Semua Bidang Usaha
Menurut Drs Totok Djuroto M.Si dalam bukunya yang berjudul Manajemen Penerbitan Pers, didalam tubuh perusahaan media cetak saat ini ada tiga poros utama, yakni redaksional, usaha, dan percetakan. Dimana bidang usaha yang menjadi sorotan utama patut dioptimalisasikan guna pencapaian keuntungan sesuai misi perusahaan, sebab disana bercokol 6 subbidang yang sangat berpengaruh pada kemajuan perusahaan. Yaitu, Bagian iklan, sirkulasi, keuangan, customer care (pelayanan), personalia (umum), serta teknik. Keenam subbidang ini dikepalai oleh seorang Pimpinan Perusahaan. Yang tugasnya jelas berbeda dengan pimpinan redaksi yang cenderung bertanggung-jawab atas isi dan patron gaya pemberitaan media mereka. Namun pada prakteknya ketiga poros utama unit usaha tersebut harus saling berkomunikasi untuk kemajuan perusahaan.Dalam struktur hirarkhi perusahaan media Jambi, memang ada fakta tingkatan manajerial. Namun pada prakteknya wartawanlah yang menjadi penentu sukses tidaknya sebuah media.

Contoh kecil dari industrialisasi pers yang berorientasi profit adalah sinergi dan kejelian antara semua lini usaha di media dalam menatap prospek yang ada. Menurut salah seorang pimpinan media mingguan lokal di Jambi, Daniel S, dengan arahan seorang Pimpinan Umum (top manager/pemilik modal) dapat mengarahkan semua manajer dibawahnya untuk saling bahu-membahu. Dalam upaya mengimbangi pemasukan sehingga terjadi keseimbangan antara income dan pengeluaran, efisiensi mutlak diperlukan. Untuk medianya, Daniel melakukan penghematan jumlah karyawan dengan memaksimalkan potensi lobi wartawan yang telah dikenalnya selama bertahun-tahun. Bahkan ia berani membebankan jumlah pelanggan kepada wartawan. Menurutnya, ini dilakukan sebagai cara pintas dengan memanfaatkan kedekatan psikologis wartawan dengan narasumber potensial berlangganan, ketimbang mengirimkan seorang marketing untuk melobi ulang.
Penulis mengambil kesimpulan, semua unsur yang menjadi sumber indsutrialisasi media sudah terpenuhi dengan banyaknya fakta-fakta dilapangan, dengan demikian semoga dunia pers dapat menarik minat masyarakat untuk mendalami serta menjadi sokoguru baru bagi lulusan jurnalistik sebagai taget baru lapangan kerja.

Penulis adalah Mahasiswa Pasca Sarjana Filsafat Islam dan staff pengajar pada Jurusan Jurnalistik Fak. Ushuluddin IAIN STS Jambi

* I M P I A N *

Oleh : Aklima

Impian tak kan jadi nyata kalau kita terus tidur
Mimpi memang indah, namun menyakitkan saat terbangun
Raihlah impian dengan mata tak terpejam
Karena kesesatan berujung kekecewaan yang akan kita raih
Langkahkan kaki, susuri hari
Asa di depan menunggu
Jangan berhenti, karena kamu akan digilas sang waktu
Jagan pernah takut punya harapan, karena harapan adalah “nyawa”
Tak ada harapan hilanglah kehidupan kita
Bermimpilah selagi bisa bermimpi
Raihlah impian selagi ada kesempatan

By: Aklima

Jauh biarlah ia jauh………..
Tak tersentuh bayangmu yang selalu menjelma
Temani jiwa yang merindu
Damba tulus pelukmu, berharga tak terhargai
Kebeningan hati terhias dari santun doa yang terlantun
Temani langkah yang ku tata
Rindumu tak terhalang, ku tak sanggup menghadirkan diri
Hanya doa lah yang mengganti kasih sayangMu nan abadi
Buat wanita mulia nan di sana

24 Januari 2006
Pon Pes Assyafi’iyah Pauh Sebrang
Sarolangun Jambi

Oleh : Aklima

“Deg-degan” atau lebih dikenal dengan canggung adalah perasaan yang sangat akrab dihati hampir semua siswa baru bahkan siswa lama ketika mereka memasuki sekolah. Memang tidak mudah dan sangat sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru mereka temui. Sebab, selain lingkungan dan suasana baru, mereka juga dituntut untuk dapat menyesuaikan dengan “gaya hidup” anyar tersebut. Adakalanya mereka bisa mengaplikasikan pengalaman yang mereka timba untuk menaklukkan perasaan tersebut. Tetapi, terkadang mereka tidak benar-benar belajar dari pengalaman yang mereka dapat, baik itu di rumah maupun di lingkungan sekolah mereka yang lama.
Ketika situasi seperti ini tentunya mereka akan merasa lebih dewasa dalam menyikapi suatu masalah, baik itu umum atau pun pribadi. Misalnya saja masalah dalam menghadapi teman baru di sekolah yang baru. Memahami watak seseorang tidak cukup berteman selama 1 atau 2 tahun, mencari teman yang benar-benar sehati sangatlah sulit. Nah, di sini lah kita ditantang untuk menghadapi ego sendiri, berlaku ramah terhadap semua yang berada di lingkungan kita, terutama lingkungan sekolah.
Seperti yang dialami oleh Jannatul Makwa salah seorang siswa MA Laboraturium Kota Jambi. Siswi berperawakan sedang ini mengaku sedikit kikuk dengan suasana di sekolahnya sendiri. “Meskipun saya telah duduk di bangku sekolah kelas 3 Jurusan IPA, pasca liburan yang dilanjutkan dengan kembali ke sekolah, tetap ada rasa asing dengan sekolah barunya. Mungkin kebanyakan libur di rumah, jadi dengan kawan sendiri merasa canggung,” ujarnya mengawali percakapan dengan IJ IAIN STS.
Lain halnya dengan Yuni yang juga notabene salah satu siswa sekolah menengah di Kota Jambi. “Awalnya saya berfikiran gini, ah…Gampang lah, kan asyik, masuk sekolah baru, punya kawan baru, pokoknya serba baru gitu. Namun ketika saya memasuki lapangan sekolah baruku, eh ga taunya hati berkata-kata, ahirnya pikiran pun tak tentu. Saya bingung, langkah apa yang mesti diperbuat, soalnya beda banget dengan lingkunganku yang dulu gitu,” bebernya panjang lebar.
Nah temen-temen…penulis punya tips untuk menghadapi masalah ketika deg-degan hari pertama masuk sekolah, ini dia….
Pertama, kalian harus percaya diri (Pede) dengan diri kalian sendiri. Kedua, berlaku ramahlah kepada semua temen. Ketiga, jangan pernah congkak atau sombong, keempat, jangan suka pilih-pilih temen, kelima, tunjukkan lah dirimu apa adanya, jadilah dirimu sendiri.

Penulis adalah Mahasiswa semester VI jurusan Ilmu Jurnalistik Fakultas Ushuluddin IAIN STS Jambi

Oleh : Andika Arnoldy

Kota Jambi – Siang itu waktu sudah menunjukan pukul sepuluh lebih, namun mentari belum bersinar terik, dan suasana jalanan tampak lengang, partikel udara yang bercampur debu dan asap knalpot pun tidak begitu “membludak” seperti biasanya. Begitu gambaran yang tepat untuk menggambarkan sepinya Senin pagi ini, yang konfrontatif dari hari–hari sebelumnya.
Namun nampaknya pemandangan sepi itu tidak terlalu terasa ketika kita berada di kampus IAIN STS Jambi Telanai pura. Gegap gempita teriakan–teriakan membahana mahasiswa di seantero kampus pencetak sarjana-sarjana tangguh ini menggoyangkan tiang bendera yang tampak masih kokoh menjulang.
Suara–suara provokatif tidak pernah berhenti dan terus memekik sampai mereka bosan. Tapi nyatanya itu tidak mereka rasakan dan seakan semangat terus bertambah. Barisan–barisan mahasiswa yang berkaos oblong dan celana jeans itu lantas merapatkan barisan.
Rombongan mahasiswa yang merupakan representasi rakyatpun berjalan mengitari kota Jambi. Besar harapan dari misi yang mereka usung, yaitu berusaha untuk membatalkan kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak).
Teriakan dan barisan yang rapat itu berhenti di Universitas Jambi (Unja), untuk menyambut rombongan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unja yang dari tadi telah menunggu dan juga berteriak mengumandangkan kebenaran.
Barisan mereka bersatu, begitu solid dan tak dapat di remehkan. Semangat mereka makin memuncak dan terus memuncak dan senantiasa bergerak melengserkan kebijakan pemerintah.
“Mahasiswa bersatu tak bisa di kalahkan!” Teriakan mereka benar-benar membuat masyarakat yang lewat saat itu tertegun dan banyak memberikan simpati. Lalu mereka kembali membuat lingkaran besar di simpang Bank Indonesia Telanai Pura. Masing – masing perwakilan lembaga yang saat itu di ikuti oleh BEM Unja, FMN, KAMMI, HMI, PMII, LMND dan BEM Unbari yang tergabung dalam Aliansi Bantu Beban Masyarakat (Aliansi BBM) memberikan orasi–orasi. Maka terdengarlah gugatan–gugatan dan kutukan terhadap pemerintahan saat itu.
Ternyata tidak sampai di sana, mereka terus berjalan menuju kantor Gubernur Provinsi Jambi yang tidak jauh dari Simpang Bank Indonesia Telanaipura sambil di iringi yel–yel penyemangat.
Tidak seperti biasanya. Nampak oleh mahasiswa puluhan polisi berkumpul di depan pagar komplek perkantoran eksekutif dan legislatif. Namun itu semua seakan tidak berarti. Bagi mahasiswa itu bukan hal yang harus di takuti, justru sebuah tantangan untuk meneruskan aksi yang sebenarnya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu pada Kapoltabes Jambi.
Namun syukur, polisi – polisi itu tidak bermaksud untuk menghadang jalannya demonstrasi tersebut. Tapi tiba–tiba mahasiswa yang kini telah di kawal oleh puluhan polisi itu kembali terkejut. Luar biasa, kalau saja di depan pagar itu hanya puluhan polisi saja, tapi ketika masuk kedalam perkantoran tersebut, terlihat betul ratusan polisi, Polisi Pamong Praja, dan Brimob, tidak itu saja, seperti mengahadapi perang mereka juga membawa mobil panser, pagar kawat berduri, ratusan polisi anti huru-hara, anjing pelacak, sangat luar biasa sambutan dari keamanan yang di pimpin langsung Kapoltabes Jambi.
Pengawalan ketat yang di lakukan oleh kepolisian ini sebenarnya tidak pernah terjadi sebelumnya khususnya di kota Jambi. Berkali – kali mahasiswa melakukan aksi unjuk rasa dengan kekuatan lebih dari seratus mahasiswa tidak pernah mendapat pengawalan seperti ini.
Tahun 2006 lalu misalkan, demo yang di ikuti hampir 200 mahasiswa, namun pengawalan polisi tidak seketat ini, hanya beberapa satuan polisi pamong praja dan polisi. Tapi memang, saat itu keributan antar mahasiswa dan anggota keamanan begitu hebat, ada beberapa mahasiswa yang di tangkap karena memecahkan kaca dan ada juga beberapa mahasiswa yang terpaksa di larikan kerumah sakit karena mendapat pukulan dari pihak keamanan.
Tapi apakah wajar, ketika kemudian pengawalan yang ketat itu mengawal tidak kurang dari tiga puluh pengunjuk rasa saja? Apakah bisa di maklumi ketika mereka mempersiapkan keamanan seperti kawat berduri, gas air mata dan peluru karet untuk berhadapan dengan mahasiswa yang hanya membawa bambu untuk benderanya?.
Biarpun begitu mereka tak gentar bahkan terus berteriak sekencang – kencangnya menuju kantor DPRD Provinsi Jambi untuk menemui Bapak Gubernur Jambi Zulkifli Nurdin. Hanya dua puluh menit saja mereka berorasi, Gubernur di dampingi Ketua DPRD Provinsi Jambi Zoerman Manap langsung menemui mahasiswa.
Seperti yang di prediksi oleh mereka sebelumnya Gubernur Jambi menolak itu untuk mendukung menggagalkan kenaikan harga BBM ”ini adalah amanat dari Presiden dan sudah di perhitungkan sebelumnya dan ini adalah solusi akhir” kemudian Gubernur Jambi makin marah, ketika masa Aksi mendesak pada Gubernur untuk mendatangani surat permohonan untuk menggagalkan kenaikan harga BBM “ siapa yang mau tanggung jawab kalau BBM tidak datang ke Jambi gara – gara kita menolak harga BBM itu, siapa?” berangnya, kemudian Gubernur Jambi masuk ke dalam kantor DPRD Provinsi Jambi dengan tipikal gaya emosionalnya yang khas.
Mahasiswa jelas tidak puas dan ingin segera menyiarkan ini ke publik, sebagai hasil dari demonya bahwa Gubernur Jambi menolak gugatan mereka.
Tak sangka dan tak di duga, pintu gerbang RRI yang tak jauh dari kantor Gubernur itupun di kawal oleh puluhan polisi. Kondisi ini sungguh tidak biasa dan makin membuat mahasiswa berang dan marah. Tidak pernah kejadian begini terjadi, biasanya mahasiswa di bolehkan untuk siaran langsung di radio milik publik itu.
Kemarahan mahasiswa ini membawa barisan itu makin merapat dan meneruskan unjuk rasa di kampus Unja Telanai. Yang membuat mahasiswa marah karena selain Gubernur Jambi tidak berpihak pada mereka tapi juga tindakan polisi yang tidak demokratis dan jumlahnya jauh lebih banyak dari mahasiswa yang hanya tiga puluhan yang tujuan aksi itu adalah aksi damai.
Kemarahan mereka mengakibatkan jalan depan Unja Telanai macet karena mencoba untuk membakar ban, namun bakar ban itupun terhenti karena ban itu di tahan polisi setelah sempat tarikan – tarikan dengan polisi.
Bagi mereka tidak ada kata berhenti dan akan terus berjuang walaupun mendapat respon negative dari pemerintahan. Sampai kapanpun suara kebenaran akan terus di perjuangkan.
Suara-suara yang memecah langit itu mengundang langit bersinar sangat panas dan membuat semangat mereka makin membara sampai mereka membubarkan diri.

Penulis adalah Mahasiswa semester VI jurusan Ilmu Jurnalistik Fakultas Ushuluddin IAIN STS Jambi

Oleh : Joni Saputra

Mendengar kata M-Studio, tentunya memori kita terhubung kesebuah gerai atau toko ekslusif berdesain ruang modern yang menyediakan segala sesuatu yang berhubungan dengan musik. Benar, M Studi adalah sebuah perusahaan franchise nasional yang bergerak dalam bisnis penjualan kaset, Compact Disc (CD), serta video musik dan film. Lokasinya berada dilantai dasar Matahari Department Store Kota Jambi. Jadi tidak begitu sulit bagi kita untuk menemukannya, karena terletak dipusat perbelanjaan kota “tempoyak” ini.
Dibawah naungan perusahaan bernama PT Prima Musikindo Entertainment, M-Studio telah membuka 14 gerai dibeberapa kota di Indonesia. Untuk daerah Jambi sendiri, M Studio telah berdiri sejak tahun 1996 dengan tiga orang karyawan. Pertama, sebagai supervisor dan dua kasir, yang selalu siap memberikan pelayanan kepada konsumen.
M Studio dikenal gerai yang cukup komplit dengan menyediakan berbagai genre musik, mulai dari dangdut, pop, rock, jazz, klasik, hiphop, religi dan sebagainya. Bukan hanya musik yang menjadi target pertama untuk mereka. Bagi para maniak film, tempat ini juga bisa menjadi primadona referensi untuk menambah koleksi keping CD di rumah.
Format musik dan film yang di jual berupa kaset biasa, VCD dan DVD.
Meski masyarakat industri musik Indonesia tengah gerah atas gempuran arus pembajakan yang tidak terbendung, terbukti M Studio tetap bertahan.
“Kayaknyo dak pengaruhlah, kareno kami punyo keunggulan dan punyo pembeli yang lah tau kualitas di M- Studio,“ Terang Elbia Dewi, karyawan merangkap kasir di toko ini ketika dikonfimasi masalah ini.
Diuraikan wanita ayu dan berjilbab ini, M Studio memiliki pelanggan dari kalangan menengah ke atas yang menginginkan kualitas dan pelayanan yang baik.
Dijelaskan, di M Studio semua hal yang berkaitan dengan kepuasan pelanggan bisa didapatkan, meskipun memiliki perbedaan harga yang tinggi dibanding dengan kaset- kaset, atau CD bajakan yang tersebar luas dipasaran. Orisinalitas, kemasan yang ekslusif dan garansi yang ditawarkan adalah nilai plus yang membedakannya dari toko kaset lain.
Dijelaskannya, selain musik dan film, di sini juga tersedia berbagai pernik dan aksesoris menarik, seperti gantungan kunci, stiker, majalah, kaos, gelang dan merchandise lainnya. Sepanjang 2008 ini ada program diskon 50 persen untuk pembelian kaset film. M Studio juga menggelar program usaha franchise. Di mana bagi mereka yanga memiliki modal dan tempat, berkesempatan untuk membuka gerai (toko) baru berlabel M-Studio.
Dengan mengusung konsep entertaiment, M Studio membidik seluruh kalangan untuk datang. Dibuka setiap hari mulai dari pkl 09.00 WIB dan tutup pada pukul 21.00 WIB. Tunggu apa lagi bagi anda pengemar musik dan film, kunjungilah M-Studio untuk menambah wawasan dan informasi baru.

Penulis adalah Mahasiswa semester VI jurusan Ilmu Jurnalistik Fakultas Ushuluddin IAIN STS Jambi

Yogyakarta – Artikel ini aku tulis karena ada teman di milis yang bertanya bagaimana cara meningkatkan trafik (pengunjung), cara yang aku tulis ini adalah hal sederhana yang pernah saya lakukan sendiri dan berhasil, berikut hasil tulisanku tentang cara meningkatkan trafik.

Cara meningkatkan trafik web kalau saya ada beberapa cara :
Buat web yang temanya akan banyak dikunjungi, kalau memang targetnya untuk bermain GA. lakukan research dulu pengguna internet ini kebanyakan siapa? (tua, muda, atau anak-2), trus yang mereka inginkan dari informasi di internet apa?. misal jangan buat situs tentang kutu rambut, bisa jadi informasi kutu rambut jarang dicari orang di internet.
Pilih hosting yang cepat diakses, stabil, dll.
Pilih domain yang mudah diinggat dan dieja, misal google, kan mudah dieja dan dianggat, jangan buat domain yang terlalu panjang dan susah diinggat, kalau bisa nama domain dari bahasa indonesia aja, ya paling panjang 8 karakterlah, lihat saja situs-situs terkenal pasti tidak pernah membuat nama domain yang panjang dan aneh, tapi cukup sederhana dan mudah dianggat, misal detik.com, kapanlagi.com, baidu.com, dll
Buat content web yang simple, tapi menarik dan coding HTML yang benar sesuai aturan, tujuannya biar orang seneng ngunjungin dan mudah di index sama paman google.
Buat keyword yang benar, seperti kalau web tentang rokok, maka keywordnya harus juga tentang rokok. untuk mengetehui keyword yang banyak digunakan oleh user bisa dicari di google.
Daftarkan di situs penyedia layanan iklan gratis yang bagus, setahu saya yang bagus ada webiklan.com (bukan promosi tapi kenyataan), jangan didaftarkan ke web yang katanya bisa mempercepat web kita di index seperti search engine submit, dll., kalau ingin daftar ke search engine seperti google langsung aja daftar sendiri melalui http://www.google.com/addurl/ kalau yahoo ya cari sendiri
Lakukan pertukaran link pada web yang memiliki isi/content sama, dan pilih yang mau memberikan link langsung pada web kita, tidak lewat redirect misal : http://www.jajanpasar.com/jump_links.php?id=10, tapi pilih yang ketika di klik langsung ke situs kita.
Ikut milis yang mempunyai anggota banyak dan sekali-kali kirimkan link yang berisi artikel menarik sehingga anggota milis bisa tertarik untuk mengunjungi web kita. tapi cara ini hati-hati jangan terlalu sering digunakan akan bahaya karena email kita bisa dianggap spam.
Ikuti forum-forum yang memiliki anggota banyak.
Daftarkan ke http://www.dmoz.org ini akan sangat menguntungkan, karena sebagian besar search engine menggunaan database situs ini.
Harus banyak belajar, tekun, dan sabar.

Sebenarnya point terakhir adalah yang paling penting. Semua point diatas sudah saya lakukan dan berhasil, apalagi kalau situs dikelola dengan baik, diawasi setiap hari, dan jangan mainan dengan spam bisa dijamin berhasil.

Kalau semua point diatas sudah dilakukan semoga pengunjung bisa bayak yang datang, kuncinya buat banyak pengunjung datang dulu entah bagaimana caranya yang penting benar, kalau pengunjung sudah banyak arahkan pengunjung untuk klik GA yang dipasang.

Kalau sudah dapat account GA lakukan cara agar GA tidak di klik oleh orang yang sejaringan IP dengan komputer kita, aku pernah nulis di blog ku dan di adsense-id.com bagaimana caranya menghindari invalid klik dari GA, bisa di baca di http://www.esn.or.id/2007-10-15-menghindari-invalid-click-pada-ga.html

lakukan point 8 diatas seperti pada paragraf diatas yang aku kasih warna biru pada milis atau forum yang memiliki anggota banyak, tapi sayang esn.or.id tidak dipasangi GA ha ha ….

Maaf terlalu panjang, yang jalas butuh belajar banyak, tekun dan sabar, kalau bisa juga akses internet 24 jam, dijamin trafik bakal naik.

Best regards,

ESN+
Mobile : 0888 682 9948
Blog : http://www.esn.or.id

Kekagumanku….

Mungkin jutaan, ribuan, apalagi cuma sebuah kata pujian tulus tak bakal cukup

Untuk memuji ketabahan hatimu..

Cuma secuil peluh harapan yang kudoakan untukmu..

Tak Ada yang sempurna rasanya saat ini jika kubandingkan

Letihnya nafasmu mendera puing angin disore ini

Di kala Jambi selalu gelap..

Gelap oleh tangan-tangan syetan yang berlumur mandian uang tak halal…

Aku mencintaimu sayang..

Minggu Depan kunikahi kamu untuk kesempurnaan agama dan imanku…

Demi syurga yang ditawarkan Allah padaku…

Oleh : Ana Nadhya Abrar

Hari itu, seorang Wakil Rektor sebuah Universitas Negeri di Yogyakarta memanggil kepala perpustakaan universitas tersebut. Dia lantas bertanya tentang jumlah uang yang bisa disumbangkan perpustakaan untuk universitas. Rupanya dia berhasrat agar perpustakaan bisa menghasilkan uang.
Mendengar pertanyaan sang wakil rektor, kepala perpustakaan itu bingung sesaat. Setelah itu, dia menjawab terus-terang bahwa perpustakaan tidak mungkin menghasilkan uang. “Perpustakaan hanya menghabiskan uang,” tambahnya.
Kita tidak mengerti apa yang terlintas dalam pikiran sang wakil rektor setelah mendengar jawaban kepala perpustakaan itu. Yang jelas, perpustakaan adalah sebuah proyek rugi dari segi uang. Tapi, manfaatnya sangat banyak buat peradaban manusia. Itulah sebabnya seluruh buku yang terbit di Amerika Serikat (AS) tercatat di Katalog Perpustakaan Kongres (Library of Congress Cataloging)nya. Lalu, apa sesungguhnya nilai esensial yang dimiliki perpustakaan?
Membuka Kesadaran
Seluruh mantan Presiden AS di zaman modern memiliki perpustakaan pribadi yang terbuka untuk umum. Perpustakaan tersebut disiapkan oleh negara. Tetapi, koleksinya disiapkan oleh mantan presiden yang bersangkutan. Maka kita mengenal Perpustakaan John F Kennedy, Perpustakaan Ronald Reagan dan sebagainya.
Perpustakaan pribadi mantan Presiden AS menyimpan banyak buku. Buku-buku tersebut ada yang dibeli secara pribadi, ada juga yang berupa sumbangan dan bahkan ada pula yang merupakan hadiah. Semuanya mendokumentasikan pengetahuan. Semakin banyak jumlah koleksi bukunya, semakin banyak pula pengetahuan yang tersimpan di perpustakaan itu.
Melalui perpustakaan pribadinya, mantan Presiden AS bisa memperdalam pengetahuannya. Setelah tidak lagi menjadi presiden, dia bisa mendalami pengetahuan di perpustakaan pribadinya. Dia bahkan bisa menemukan sesuatu yang kelak bisa disampaikannya kepada masyarakat. Itulah sebabnya seorang mantan Presiden AS tetap bisa mengikuti perkembangan zaman dan bahkan meresponsnya dengan tepat.
Kalau ditanyakan kepada pemerintah AS tentang alasan pembuatan perpustakaan pribadi mantan Presiden AS, tentu jawaban yang segera muncul adalah: untuk memberikan penghargaan kepada sang mantan presiden. Tetapi, mengapa harus perpustakaan? Bukankah banyak penghargaan lain? Jawaban yang masuk akal adalah, perpustakaan bisa menjadi sekolah hidup. Para pengunjungnya bisa belajar kapan saja di sana. Pembelajaran itu akan membuka kesadaran mereka tentang sebuah zaman, kekuatan bangsanya, perkembangan pengetahuan dan sebagainya. Semakin banyak orang yang memiliki kesadaran semacam ini semakin bermanfaat mereka buat kemajuan bangsa mereka.
Lalu, sudahkah pemerintah Indonesia membuatkan perpustakaan pribadi untuk mantan presidennya? Sepertinya belum. Perpustakaan pribadi yang dimiliki mantan Presiden RI adalah hasil kerja keras sang mantan presiden. Wajar kalau perpustakaan itu tertutup untuk umum. Akibatnya, masyarakat tidak tahu sejauh mana sebenarnya perpustakaan itu menyimpan pengetahuan. Lebih dari itu, masyarakat juga tidak mengerti minat mantan presiden tersebut terhadap pengetahuan.
Mengenal Potensi
Melalui buku-buku yang menjadi koleksi perpustakaan, kita bisa mengetahui bagaimana generasi pendahulu kita menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi. Sekalipun persoalan itu tergolong besar, toh mereka berhasil menyelesaikannya tanpa kekerasan. Mereka mampu mengendalikan diri dan mengedepankan rasa kasih sayang.
Dalam buku-buku yang lain, kita juga bisa melihat bagaimana generasi pendahulu kita bekerja keras membangun negara ini. Mereka tidak cengeng dalam berkarya. Mereka tidak berhenti belajar demi menggapai cita-cita mereka. Lebih dari itu, mereka senantiasa mengasah kecerdasan mereka agar bisa memenangkan persaingan dengan sehat.
Semua petuah ini tentu saja membangkitkan kesadaran bahwa kita sebenarnya memiliki potensi untuk menyelesaikan persoalan secara damai. Kita pernah memiliki etos kerja yang kuat dan senantiasa berusaha demi memuaskan obsesi kita. Kenyataan ini tentu menjadikan kita bersemangat untuk meniru apa yang sudah dilakukan oleh generasi pendahulu kita. Kita pun sadar bahwa sebenarnya kita punya potensi untuk itu.
Menyadari bahwa perpustakaan bisa membangkitkan potensi masyarakat Irak, AS menghancurkan perpustakaan negara milik Irak. AS membumihanguskan semua perpustakaan Irak yang sebenarnya menyimpan karya besar peradaban Islam masa lampau. AS tidak ingin generasi mendatang Irak mengetahui persis potensi yang dimiliki bangsa mereka. Tegasnya, AS memutus mata rantai generasi lama dengan generasi baru Irak.
Bagaimana dengan Indonesia? Belum ada negara lain yang membumihanguskan perpustakaan milik bangsa Indonesia. Tetapi, perpustakaan kita tidak selalu terawat dengan baik. Tidak jarang perpustakaan kita berlokasi di tempat yang tidak strategis dan suasana di dalamnya tidak nyaman. Akibatnya, perpustakaan tersebut sepi pengunjung. Kalau sudah begini, bagaimana mungkin masyarakat bisa mengenali potensi bangsa ini?
Memperoleh Rujukan
Sesungguhnya kita tidak bisa berpendapat tanpa mengetahui pendapat orang lain. Pendapat kita, sekalipun berbeda dengan pendapat orang lain, dipicu oleh pendapat orang lain. Tetapi, tidak berarti bahwa kita harus menunggu pendapat orang lain dulu sebelum berpendapat. Pendapat kita hanya tidak pernah lahir begitu saja.
Keadaan seperti ini menyebabkan kita tidak pernah berhenti mencari rujukan. Kita akan merasa tidak percaya diri bila tidak memiliki rujukan dalam berpendapat. Kita bahkan akan disebut sombong bila tidak punya rujukan dalam berpendapat. Maka mencari rujukan menjadi semacam keniscayaan bagi manusia sebelum membuat keputusan.
Rujukan itu bisa kita peroleh melalui buku-buku yang disimpan di perpustakaan. Rujukan tersebut sangat luas. Bagi orang-orang yang sangat tekun, mereka bisa memperoleh rujukan yang sangat lengkap di perpustakaan. Bagi yang tidak, mereka juga bisa menemukan rujukan di perpustakaan. Tegasnya, mereka yang memang berniat mencari rujukan, perpustakaan memang tempatnya.
Bagi mereka yang menulis makalah, skripsi, laporan penelitian, rujukan menjadi sangat penting. Ini bisa dilihat dari kenyataan bahwa pada akhir tulisan tersebut tertulis “daftar pustaka”. “Daftar pustaka” di sini tidak berarti nama-nama pustaka yang mereka kunjungi, melainkan daftar buku yang mereka pakai sebagai rujukan. Buku-buku ini bisa dibaca di perpustakaan.
Pentingnya perpustakaan sebagai tempat mencari rujukan disampaikan secara plastis oleh sebuah film berjudul “National Treasure: Book of Secrets” yang dibintangi oleh Nicolas Cage. Di film itu diceritakan, untuk memperoleh informasi tentang rujukan tentang kota yang hilang (lost city), Nicolas Cage harus menyandera Presiden AS. Dari Presiden AS inilah dia mengetahui rujukan yang dia cari ternyata tersimpan di Pustaka Kongres AS. Berdasarkan rujukan itulah dia kemudian berhasil menemukan kota yang hilang dan membersihkan nama kakek buyutnya yang dituduh sebagai pembunuh Abraham Lincoln. q – m. (3172-2008).
*) Ana Nadhya Abrar, Pengajar Fisipol UGM dan kandidat doktor dari Universiti Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia.

Kota Jambi – Langkanya bahan bakar minyak (BBM) di Jambi sepekan terakhir hampir membuat masyarakat kota “tempoyak”  ini gila. Bagaimana tidak, antrian ratusan kendaraan bermotor kalau tidak mau dikatakan ribuan telah tampak disegala penjuru kota sejak dinihari, demi mendapatkan jatah 4 liter permotor dan 20 liter permobil. Disetiap sudut tampak para petugas keamanan dengan setianya mengawasi potensi konflik yang terjadi akibat tersulutnya emosi warga yang mengantri “emas” dadakan ini.

Bahkan dari pantauan saya, jalan primer seperti jalan Sumantri Brojonegoro terpaksa dialihkan menjadi satu jurusan agar lalu-lintas tidak terganggu seperti harihari awal terdeteksinya pasokan minyak langka.

Menurut keterangan beberapa sumber yang layak dipercaya, Meski Pertamina beralasan langkanya pasokan minyak di Jambi akibat dangkalnya debit air Sungai Batanghari, tetap saja muncul komentar bernada miring tentang hal ini. Sejumlah besar masyarakat menuduh Pertamina sangat tidak profesional. ”Masa ngurusi bisnis yang menguasai hajat hidup orang banyak aja ga bisa n merugi terus setiap tahun. Mau kemana lagi negara ini dibawa pemimpinnya yang geblek dan doyan korupsi,” kata mereka berapi-api. Gubernur Jambi H Zulkifli Nurdin memaparkan, alokasi BBM di Jambi saat ini hanya 51 truk per hari. Jumlah tersebut turun jika dibandingkan dengan tahun 2000 yang mencapai 64 truk/hari.

Berdasar hitungannya, kebutuhan BBM di Jambi setidaknya 80 truk sehari. “Kami akan menghadap direktur Pertamina di Jakarta untuk menambah stok BBM untuk Jambi,” ujarnya.

Kondisi itu diperparah oleh sering terjadinya kapal pengangkut BBM yang kandas saat menuju pelabuhan Jambi. Untuk itu, tengah dibahas pembangunan dermaga yang lebih menjorok ke tengah laut. “Nantinya kapal bisa sandar,” tambah dia.
Meski kota ini dikenal tidak mudah terprovokasi oleh hasutan meski kondisi kehidupan sudah melilit pinggang, akhirnya agak tercoreng dengan banyaknya keributan-keributan kecil akibat geseran kepentingan di SPBU. Apabila biasanya, pagi hari menjadi sentra tontonan betapa membludaknya jumlah kendaraan di kota ini, sejak sepekan terakhir, hal tersebut lenyap tak berbekas. Kondisi ini semakin diperparah dengan banyaknya para spekulan yang mencoba memancing di air yang sudah keruh. Mereka ”rela” antri berjam-jam dengan misi tertentu. ”Iya, bang saya liat banyak mobil yang bolak-balik ngantri ke SPBU. Plat nomornya sampai hafal luar kepala saya, bang,” ujar salah seorang pemilik kendaraan bermotor yang masih berseragam sekolah kepada saya.

kondisi ini mengingatkan saya kepada cerita teman saya yang bekerja di ujung nusantara. Dia mengatakan,”uang Rp 1 juta ditempat saya bekerja tidak berarti sama sekali. Karena sabun saja harganya bisa mencapai Rp20 ribu.” Berarti ”azab” ini masih belum berarti apa-apa buat saudara-saudara kita nun jauh disana. Tapi jelang sore Jum’at (11/07/2008). terlihat kondisi sudah mulai mereda. Para pemakai kendaraan bermotor sudah tidak lagi terpaksa membeli bensin eceran yang diragukan kemurniannya, dengan harga yang dipatok sangat tinggi, Rp50 ribu. Bahkan penulis sempat terpaksa membeli bensin seharga Rp35 ribu dari pengecer yang tanpa rasa bersalah mengambil dengan segera uang dari tangan saya, yang memang sudah lembaran terakhir. (yud)

Tulisan Sebelumnya »